Sabtu, 18 Agustus 2012

ucapan dan tingkah laku (psikologi, terutama antar orang tua dan anak)



tulisan ini dimaksudkan untuk setidaknya mengetahui peran orang tua ketika membimbing anaknya dari segi psikologi.

dimulai dari ucapan

siapa yang tidak tahu kekuatan dari 'ucapan' ini??

bahkan, ucapan yang buruk diibaratkan jauh lebih menyakitkan di hati dari pada ditusuk sebilah pisau...

ucapan adalah kekuatan besar yang diciptakan pada diri manusia oleh tuhan.
saking besarnya kekuatan dari ucapan, bahkan bisa merubah pemikiran manusia di seluruh dunia!

psikologi komunikasi tentu sangatlah penting untuk bisa di pelajari dan kemudian diaplikasikan di kehidupan yang nyata. karena komunikasi adalah kebiasaan kita sehari-hari. tanpa komunikasi yang baik, persepsi dari lawannya tentu bisa berbeda-beda, bahkan bisa jadi timbul kesalahan persepsi dari lawan bicara yang bisa menyebabkan kehancuran.

 misalnya, komunikasi antara anak dan orang tua

salah satu contohnya adalah sebagai berikut.

             

                    si X dengan bahagia berkata : "pah, pahh... aku dapat nilai 8 lohhh matematikaa!!! kerenn           kaannn??"

                    si orang tua X membalas," wah bagus tuh.. dapat delapan ya... hmmm... tapi...."

                    si X langsung memotong, " tapi kalo dikurangi mainnya pasti dapat 9!  udah ga usah di lanjutin... udah tau ko..." si anak dengan perasaan sedih langsung berlari meninggalkan orang tuannya. tentu saja si orang tua kaget bukan kepalang, tidak menyangka si anak bakal berkata seperti itu.



udah jelass kan apa yang tejadi di sini,,.  kata 'tapi' di pandang oleh ahli psikologi adalah kata yang terkadang dalam beberapa konteks percakapan dinilai 'menjatuhkan'... artinya, mengurangi nilai baik yang ada pada kalimat awalnya.   termasuk contohnya adalah percakapan di atas.          



selain kata 'tapi',, kata lain yang menjatuhkan adalah 'salah!'.

"eehhh itu salaahhhh!! harusnya gini...."        "ehhh salahhhh caranya,,"     "ck, salah... salah..."

haloooo,,, memang benar dalam konteks sehari-hari, apa yang di lakukan si korban emang salah.     hanya saja, kalimat 'salah' bisa berarti 'menyalahkan' orang lain. menyalahkan disini lebih di artikan negatif. dalam arti, dari psikologis si pelakunya sendiri dalam penafsiran kata 'salah' itu bisa berimbas buruk..

bisa saja akhirnya si korban merasa dirinya selalu salah, dan tidak pernah becus melaksanakan tugas. sehingga melemahkan mentalnya.    akan lebih baik jika menyalahkan orang lain dengan kalimat yang lebih ringan seperti "itu kurang tepat..."  "bagaimana apabila seperti ini..." dan lain sebagainya.



ucapan saat ini adalah kunci masa depan. mari mulai ucapan sehari-hari dengan lebih baik.

apalagi terhadap anak.  sungguh tidak pernah benar orang tua memaki, memarahi atau menjatuhkan si anak didalam masa pertumbuhannya. memang benar, orang tua selalu bermaksud baik demi kebaikan anaknya sendiri, hanya saja penafsiran orang berbeda-beda, bahkan penafsiran si anaknya sendiri yang mentalnya masih mudah goyah.

beberapa orang memang menyadari adanya sifat selalu berkata kasar yang menjadi kelemahan dirinya. tetapi, ingatlah bahwa itu bisa di ubah, termasuk dengan mengingat tanggung jawab kepada orang sekitar, terutama anak agar si anak berucap yang baik pula.

cerminan.

masuk ke cerminan. ada pepatah mengatakan, 'anak adalah cerminan orang tua nya'. (woyy hallooo., itu bukan pepatah lagi meureun)

yah, itu dalam beberapa hal memang benar. anak cenderung mengikuti perilaku orang tuanya. walau akhirnya, menurut penulis lingkunganlah yang mempengaruhinya.  kita anggap saja si orang tua adalah lingkungan yang bisa membentuk perilakunya.

termasuk ucapan, tingkah laku bisa juga diikuti oleh anak. perilaku suka berucap kasar dan menjatuhkan dapat membuat penafsiran yang berbeda tiap anak. terkadang anak menganggap bahwa tindakan buruk orang tuanya itu adalah cara yang benar dalam mendidik seseorang. atau dalam bertingkah laku kepada orang lain. itulah yang seharusnya dihindari. setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. sehingga kita tidak tahu apakah sifat dewasanya bisa menyadari kelakuan buruk yang pernah menimpanya dulu sehingga berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama. atau bisa saja penafiran buruk itu akan mendarah daging kedalam jiwanya. sehingga membenarkan dan mengulang kembali sifat buruk yang dianggapnya benar.

ingat, setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda-beda ketika berusaha menerjemahkan sesuatu kejadian.

oleh karena itu, keterbukaan komunikasi sangat diperlukan. memang tidak mudah, tetapi tidak mustahil. secara perlahan tentu.



dikutip dari beberapa situs dari ahli psikologi, orang tua yang selalu mengalami kondisi stres (galau, hampir putus asa, bingung, bahkan menyalahkan diri sendiri) ketika mengurus atau mengarahkan anaknya yang dirasa tidak sesuai dengan harapan beliau, menandakan ketidak-siapan beliau dalam mendidik anak.

karena itulah, dimulai dari merubah diri sendiri untuk kebaikan sekitar kita adalah hal yang pertama-tama harus dilakukan.


bagaimana bisa merubah seseorang, sedangkan sifat buruknya sendiri belum di rubah.

kemudian memahami psikologi komunikasi antar sesama, termasuk dengan anak atau orang sekitar.




itu dulu aja dehh, besok solat ied yeuuhh,,, harus tidur lebih cepat!! (waktu saat tulisan ini terakhir di tulis menunjukan pukul 01.30,, dasar penulis!!!)




sumber :

http://www.yarsi.ac.id/berita/1-yarsi-latest-news/269-psikologi-orangtua-ketika-buah-hati-tak-qsempurnaq.html
http://abdulcholik.com/2012/06/18/ucapan-orangtua-yang-melemahkan-semangat-anak/
http://kotalayakanak.org/index.php?option=com_content&view=article&id=233:mendidik-anak-tanpa-kekerasan&catid=56:artikel&Itemid=77
http://www.psikologizone.com/perilaku-orangtua-model-utama-bagi-anak/06511108
http://www.anakciremai.com/2008/06/makalah-psikologi-tentang-bimbingan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar